Showing posts with label Wisata religi. Show all posts
Showing posts with label Wisata religi. Show all posts

Monday, July 4, 2016

Syekh Magelung Sakti

Syekh Magelung Sakti

                     Wisata Religi makan syekh magelung sakti

Syekh Magelung Sakti alias Syarif Syam alias Mohammad syam alias Pangeran Soka alias Pangeran Karangkendal. Konon Syekh Magelung Sakti berasal dari negeri Syam (Syria), hingga kemudian dikenal sebagai Syarif Syam.

Berbeda dengan yang lain, ternyata, rambut Arifin Syam yang akhirnya dikenal sebagai Mohammad Syam Magelung Sakti, tak pernah bisa dipotong sejak lahir ….
Syarif Syam memiliki rambut yang sangat panjang, rambutnya sendiri panjangnya hingga menyentuh tanah, oleh karenanya ia lebih sering mengikat rambutnya (gelung). Sehingga kemudian ia lebih dikenal sebagai Syekh Magelung (Syekh dengan rambut yang tergelung).

Beliau juga tergolong bocah yang jenius, tak salah jika pada usia 7 tahun, di kalangan guru dan Para pendidiknya ia telah menyandang panggilan sebagai sufi cilik. Agaknya inilah yang menyebabkan kenapa di kala itu ia menjadi anak yang diperebutkan di kalangan guru besar di seluruh negara bagian Timur Tengah, bahkan di usia 11 tahun, ia telah mampu menempatkan posisinya sebagai pengajar termuda di berbagai tempat ternama, misalnya Madinah, Makkah, istana raja Mesir, Masjidil Agso, Palestina, dan berbagai tempat ternama lainnya.
Walau begitu, ia banyak dihujat oleh ulama fukkoha, maklum, kian hari rambutnya kian memanjang tak terurus, sehingga dalam pandangan para ahlul fikokkha, Arifin Syam, terkesan bukan sebagai seorang pelajar sekaligus pengajar religius yang selalu mengedepankan tatakrama. Pelecehan dan hinaan yang kerap diterimanya, membuat Arifin Syam mengasingkan diri selama beberapa tahun di salah satu goa di daerah Haram, Mekah.
Sejatinya bukan karena Arifin Syam tak mau mencukur rambutnya yang lambat laun jatuh menjuntai ke tanah, tapi apa daya, walau telah ratusan bahkan ribuan kali berikhtiar ke belahan dunia lain, tetapi, ia belum pemah mendapatkan seseorang yang mampu memotong rambutnya itu. Menurut tutur yang berkembang, sejak dilahirkan ke alam dunia, rambut Arifin Syam memang sudah tidak bisa dipotong oleh sejenis benda tajam apapun. Dan kisah ini terus berlanjut hingga dirinya mencapai usia 40 tahun.
Dan pada usia 30 tahun, Arifin Syam diambil oleh istana Mesir untuk menjadi panglima perang dalam mengalahkan pasukan Romawi dan Tartar. Dari sinilah namanya mulai masyhur di kalangan masyarakat luas sebagai panglima perang tersakti di antara para panglima perang yang ada sebelumnya. Betapa tidak, jika kala itu kepiawaian seorang panglima perang bisa terlihat pada saat mengatur strategi perang serta keandalannya memainkan pedang, tombak serta ketepatan dalam memanah. Berbeda dengan Arifin Syam yang akhimya dikenal dengan sebutan Panglima Mohammad Syam Magelung  Sakti, ia selalu mengibaskan rambutnya yang panjang dan keras mirip kawat baja ke arah musuh-musuhnya. Akibatnya sudah dapat diduga, para musuh tak ada yang berani mendekat, dan lari pontang-panting karenanya. Sampai di usia 32 tahun, selama 12 tahun kemasyhurannya sebagai sosok panglima perang berambut sakti itu benar-benar tak tertandingi. Hingga pada usia 34 tahun ia bertemu langsung dengan Nabiyulloh Khidir AS, yang mengharuskannya mencari guru mursyid sebagai pembimbingnya untuk menuju maqom kewalian kamil.
Dan tanpa banyak pertimbangan, ia langsung meninggalkan istana raja Mesir yang saat itu benar-benar amat membutuhkan tenaganya. Tak hanya itu, bahkan ia juga rela meninggalkan seluruh murid-rnuridnya yang ingin lebih mengenal atau mendalami ilmu-ilmu Allah SWT. 
Dengan perbekalan secukupnya dan berteman ratusan kitab, Mohammad Syam Magelung Sakti pun mulai mengarungi belahan dunia dengan menggunakan jukung (sejenis perahu kecil bercadik). Dalarn perjalanan kali ini, ia pun mulai
singgah dan bahkan mendatangi beberapa ulama terkenal untuk menerimanya sebagai murid, di antaranya:
 Syeikh Dzatul Ulum di Libanon, Syeikh Attijani di Yaman bagian Selatan, Syeikh Qowi bin Subhan bin Arsy di Beirut, Syeikh Assamargondi bin Zubair bin Hasan  India, Syeikh Muaiwiyyah As- Salam, Malaita, Syeikh Mahmud, Yarussalem, Syeikh Zakariyya bin Salam bin Zaab Tunisia, Syeikh Marwan bin Sofyan Siddrul Muta’alim, Campa, dan masih banyak yang lainnya. 
Tapi, walau begitu banyak Para waliyulloh yang didatangi, tak satupun di antara mereka yang mau menerimanya. Karena hampir semuanya berkata, “Sesungguhnya akulah yang meminta agar menjadi muridmu wahai sang Waliyulloh. “
Dengan perasaan kecewa yang teramat mendalam, akhirnya, beliau pun mulai meninggalkan mereka untuk terus mencari guru mursyid yang diinginkannya.


Kisah terpotongnya rambut Syarif syam

“..........datanglah segera ke kota Cirebon, temuilah Syarif Hidayatulloh. Sesungguhnya dialah yang mempunyai derajat raja dengan maqom Quthbul Muthlak,”.

Waktu terus berjalan pada porosnya, hingga suatu hari, beliau bertemu dengan seorang pertapa sakti bangsa Sanghyang yang bemama Resi Purba Sanghyang Dursasana Prabu Kala Sengkala, diperbatasan selat Malaka. “Wahai Kisanak, datanglah ke pulau Jawa. Sesungguhnya disana telah hadir seorang pembawa kebajikan bagi seluruh waliyulloh, benamkan hati dan pikiranmu di telapak kakinya, sesungguhnya beliau mengungguli semua  waliyulloh yang ada,” katanya dengan santun.
Mendengar itu, beliau sangat senang dan seketika minta diri untuk langsung melanjutkan perjalanannya menuju ke Pulau Jawa. Dan setibanya di pesisir Pulau Jawa, beliau pun singgah di suatu pedesaan sambil tiada hentinya bertafakur memohon kepada Allah SWT agar dirinya dapat dipertemukan dengan mursyid yang selama ini diimpi-impikannya. Dan tepat pada malam Jum’at Kliwon, di tengah keheningan malam, tiba­-tiba beliau dikejutkan oleh uluk salam dari seseorang “Assalamu’alaikum Ya Akin ‘min ahli wilayah.” Dengan serta merta dan sedikit gugup, beliau pun menjawabnya, “Waalaikum’salam Ya Nabiyulloh Khidir AS yang telah membawaku ke pintu Rohmatallil’alamin,
“Lima tahun sudah mencari ridhoku dan kini ananda telah mendapatkannya. Untuk itu datanglah segera ke kota Cirebon, temuilah Syarif Hidayatulloh. Sesungguhnya dialah yang mempunyai derajat raja dengan maqom Quthbul Muthlak,” terang Nabiyulloh Khidir AS sambil menghilang dari pandangannya.
Tak perlu berlama-lama, dengan semangat yang menggebu beliau pun langsung mengayuh jukung-nya menuju Cirebon. 
Sementara, di tempat lain, lewat maqom-nya Syarif Hidayatulloh atau Sunan Gunung Jati sudah mengetahui kedatangan Mohammad Syam Magelung Sakti. Seketika, beliau langsung mengutus uwak sekaligus mertuanya, Mbah Kuwu Cakra Buana untuk menjemput tamunya di pelabuhan Cirebon.
Singkat cerita, setibanya di tempat pertemuan yang telah ditentukan oleh Sunan Gunung Jati, Mbah Kuwu sengaja tidak langsung menghadapkan tamunya kepada Syarif Hidayatulloh tetapi mengujinya terlebih dahulu. Dalam pemahaman ilmu Tauhid, hal semacam ini biasa dikenal dengan Tahkikul ‘Ubudiyyah FissifatirRobbaniah yang artinya adalah meyakinkan tingkat ke-walian seseorang dan Nur Robbani yang dipegangnya.
Manakala sang tamu Mohammad Syam Magelung Sakti berhadapan dengan Mbah Kuwu Cakra Buana, beliau pun langsung uluk salam dan bertanya, “Wahai Kisanak, tahukah Andika di mana saya bisa bertemu dengan Sunan Gunung Jati?”
Alih-alih dijawab, Mbah Kuwu malah balik bertanya, “Sudahkah Kisanak mendirikan sholat Dhuhur setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh itu?”
Mohammad Syam langsung mengangguk dan mengakui bahwa dirinya memang belum melaksanakan sholat Dhuhur. Mbah Kuwu pun langsung mengambil satu bumbung (mas bambu-Ted) kecil dan berkata “Masuk dan sholat-lah berjamaah denganku’.
Sambil terheran-heran, Mohammad Syam mengikuti langkah-manusia aneh di hadapannya yang tak lain adalah Mbah Kuwu Cakra Buana, dan masuk ke dalam bumbung – yang di dalamnya ternyata sangat luas dan terdapat sebuah musholla besar yang sangat anggun.
Seusai mendirikan sholat Dhuhur, Mbah Kuwu pun mengajak tamunya menuju kota Cirebon. Tetapi, sebelum sampai di tujuan, atas hawatif yang diterimanya dari Sunan Gunung Jati, Mbah Kuwu langsung memotong rambut tamunya dan seketika menghilang dan hadapan Mohammad Syam Magelung Sakti. Tahu rambutnya telah terpotong, Mohammad Syam Magelung Sakti berkeyakinan bahwa manusia tadi (sejatinya adalah Mbah Kuwu), pastilah Sunan Gunung Jati. Dengan serta merta, beliau langsung memanggilnya tiada henti ….
Karena tak mendapat sahutan, maka, dengan bersemangat Mohammad Syam terus mencari keberadaan Sunan Gunung Jati yang dianggapnya sudah mampu memotong rambutnya itu  hingga sampai pada suatu tempat, dan tanpa sadar beliau masuk di tengah-tengah kerumunan orang yang sedang mengikuti perlombaan untuk mendapatkan seorang putri nan cantik jelita, Nyimas Gandasari Panguragan. 
Tanpa sadar, kakinya yang terus melangkah itu masuk ke tengah-tengah arena syaembara yang diadakan oleh Ki Ageng Selapandan yang juga adalah Ki Kuwu Cirebon waktu itu dikenal juga dengan sebutan Pangeran Cakrabuana (masih keturunan Prabu Siliwangi dari Kerajaan Hindu Pajajaran), yang berkeinginan agar anak angkatnya, Nyi Mas Gandasari, segera menikah.  Karena Meskipun telah banyak yang meminangnya, ia tidak bisa menerimanya begitu saja dengan berbagai macam alasan dan pertimbangan. Oleh karenanya kemudian ia pun mengadakan sayembara untuk maksud tersebut, sejumlah pangeran, pendekar, maupun rakyat biasa dipersilakan berupaya menjajal kemampuan kesaktian sang putri. Siapapun yang sanggup mengalahkannya dalam ilmu bela diri maka itulah jodohnya. Banyak diantaranya pangeran dan ksatria yang mencoba mengikutinya tetapi tidak ada satu pun yang berhasil. Seperti Ki Pekik, Ki Gede Pekandangan, Ki Gede Kapringan serta pendatang dari negeri Cina, Ki Dampu Awang atau Kyai Jangkar berhasil dikalahkannya.
Mengetahui ada lawan baru yang masuk ke arena, (Syarif syam) seketika, Nyimas Gandasari pun langsung menyerangnya. Mendapatkan dirinya diserang secara mendadak, Mohammad Syam pun langsung mengelak dan mencoba menjauhkan diri. Belum sempat bertanya lebih jauh, Nyimas Gandasari yang kala itu sedang diperebutkan para jawara dan berbagai pelosok daerah sangat tersinggung dengan ulahnya yang terus menghindar dan  kembali melakukan serangan beruntun. Dengan perasaan dongkol, akhimya, Mohammad Syam memutuskan untuk melayani
lawannya dengan bersungguh hati. Menurut tutur, puluhan bahkan ratusan jurus maut telah dikeluarkan., Lama kelamaan, merasa kesaktiannya masih, berada di bawah pemuda asing yang
sedang dihadapinya, maka, dengan sekali loncatan Nyimas Gandasari pun berucap”Ya Kanjeng Susuhunan Sunan Gunung Jati, Yajabarutihi ila sulthonil alam, Kun Fayakun Lailaha Illalloh Muhammad Rosululloh,” badannya langsung terbang ke awang-awang dengan harapan sang lawan tak mampu mengejamya.
Berbeda dengan Mohammad Syam, mendengar nama Sunan Gunung Jati disebut, sontak hatinya tercekat. Beliau yakin, lawannya past tahu keberadaan manusia pilihan yang tengah dicarinya itu. Dan tanpa menemui banyak kesulitan, beliau langsung dapat menyusul Nyimas Gandasan bahkan berhasil menangkap tangan kanannya. Dengan panik, akhimya, Nyimas Gandasari berhasil melepaskan pegangan sang lawan dan tubuhnya pun menukik tajam  pada saat yang sama, Sunan Gunung Jati yang sedang tafakkur di sungai Kalijaga, kedatangan Nyimas Gandasari dengan wajah pucat pasi sambil menuding ke arah sang lawan. Ia memohon kepada gurunya agar si  pemuda yang mengejamya tidak melihat keberadaannya.
Dengan izin Allah SWT, dalam hitungan detik, tubuh Nyimas Gandasari berubah menjadi kecil dan bersembunyi di bawah bakiak (terompah terbuat dari kayu) Kanjeng Sunan Gunung Jati yang serta merta bertanya pada pemuda yang baru saja ada di hadapannya, “Wahai Kisanak, apa yang Andika cari di tempat yang sepi ini?
Dengan santun, Mohammad Syam pun menjawab, “Mohon maaf Kisanak, sesungguhnya saya datang ke tempat ini untuk mencari seorang gadis dan meminta bantuannya agar dapat bertemu dengan Sunan Gunung Jati “
Sambil tersenyum, akhirya Sunan Gunung Jati mengembalikan wujud Nyimas Gandasari dan mengingatkan agar yang bersangkutan memenuhi janjinya untuk menikah dengan orang yang mampu mengalahkan kesaktiannya. Dalam perjalanan ini, akhimya Mohammad Syam berganti nama menjadi Pangeran Soka. Dan di penghujung cerita Pangeran Soka dan Nyimas Gandasari akhirriya berikrar untuk meneruskan perjalanan hidupnya menuju ilmu tuhid yang lebih matang hingga mereka berdua mufakat menjalankan nikah bisirri tanpa hubungan badan layaknya suami istri, namun akan bersatu dengan Nikah Hakikiyah kelak di alam surga dengan disaksikan langsung oleh Sunan Gunung Jati Min Quthbil Muthlak ila Jami’il Waliyulloh

Setelah berguru kepada Sunan Gunung Jati di Cirebon, Syarif Syam alias Syekh Magelung Sakti diberi tugas mengembangkan ajaran Islam di wilayah utara. Ia pun kemudian tinggal di Karangkendal, Kapetakan, sekitar 19 km sebelah utara Cirebon, hingga kemudian wafat dan dimakamkan di sana hingga kemudian ia lebih dikenal sebagai Pangeran Karangkendal.
Sesuai cerita yang berkembang di tengah masyarakat atau orang-orang tua tempo dulu, pada masa lalu Syekh Magelung Sakti menundukkan Ki Gede Tersana dari Kertasemaya, Indramayu, sehingga anak buah Ki Tarsana tersebut yang berupa makhluk halus pun turut takluk. Namun, makhluk gaib melalui Ki Tersana meminta syarat agar setiap tahunnya diberi makan berupa sesajen rujak wuni. Dari cerita inilah selanjutnya, tradisi menyerahkan sesajen daging mentah tersebut berlangsung setiap tahun di Karangkendal.

Kini, tempat terpotongnya rambut Syeikh Magelung Sakti, masih dilestarikan sebagai nama salah satu desa, yakni Desa Karanggetas, yang letaknya di sebelah selatan Kantor Walikota Cirebon. Dan tahukah Anda berapa panjang rambut Syeikh Magelung Sakti, sesungguhnya? Temyata, 340 m, atau sepanjang Jalan Karang Getas, antara perbatasan Desa Pagongan hingga lampu merah Pasar Kanoman. Dan panjang rambut Syeikh Magelung Sakti ini sudah mendapat persetujuan sekaligus restu dari beberapa ulama khosois, misalnya, Syeikh Aulya’ Nur Ali, Syeikh Kamil Ahmad Trusmi, Syeikh Ahmad Sindang Laut, SyeikhAsnawi bin Subki Gedongan.
Selain berjasa dalam syiar Islam di Cirebon dan sekitarnya, Syarif Sam dikenal sebagai tokoh ulama yang mempunyai ilmu kanuragan tinggi pada zamannya. Ia membangun semacam pesanggrahan yang dijadikan sebagai tempat ia melakukan syiar Islam dan mempunyai banyak pengikut. Sampai dengan akhir hayatnya, Syekh Magelung Sakti dimakamkan di Karangkendal, dan sampai sekarang tempat tersebut selalu diziarahi orang dari berbagai daerah.
Di situs makam Syekh Magelung Sakti terdapat sumur peninggalan tokoh ulama tersebut, padasan kramat, depok (semacam pendopo) Karangkendal, jramba, kroya, pegagan, dukuh, depok Ki Buyut Tersana, dan pedaleman yang berisi pesekaran, paseban, serta makam Syekh Magelung Sakti sendiri.
Berjauhan dengan makam suaminya Syekh Magelung Sakti, makam Nyi Mas Gandasari terdapat di Panguragan, sehingga ia kemudian dikenal juga sebagai Nyi Mas Panguragan.


@berbagai sumber brad..

Wisata Religi Makam Sunan Gunung Jati

Wisata Religi Makam Sunan Gunung Jati

A. Selayang Pandang

Kota Cirebon merupakan salah satu kota di Jawa Barat yang cukup terkenal berkat adanya makam Syarif Hidayatullah, seorang mubaligh, pemimpin spiritual, dan sufi yang juga dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati. Peristirahatan terakhir Sunan Gunung Jati dan keluarganya ini disebut dengan nama Wukir Sapta Rengga. Makam ini terdiri dari sembilan tingkat, dan pada tingkat kesembilan inilah Sunan Gunung Jati dimakamkan. Sedangkan tingkat kedelapan ke bawah adalah makam keluarga dan para keturunannya, baik keturunan yang dari Kraton Kanoman maupun keturunan dari Kraton Kasepuhan.

Di makam ini terdapat pasir malela yang berasal dari Mekkah yang dibawa langsung oleh Pangeran Cakrabuana, putera Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjadjaran. Karena proses pengambilan pasir dari Mekkah itu membutuhkan perjuangan yang cukup berat, maka pengunjung dan juru kunci yang akan keluar dari kompleks makam ini harus membersihkan kakinya terlebih dahulu, agar pasir tidak terbawa keluar kompleks walau hanya sedikit. Larangan tersebut merupakan instruksi langsung dari Pangeran Cakrabuana sendiri.
Makam yang menempati lahan seluas 4 hektar ini merupakan obyek wisata ziarah yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan/peziarah baik dari Cirebon maupun kota-kota sekitarnya. Kedatangan para peziarah itu biasanya berlangsung pada waktu-waktu tertentu seperti Jumat Kliwon, peringatan maulud Nabi Muhammad SAW, ritual Grebeg Syawal, ritual Grebeg Rayagung, dan ritual pencucian jimat.

B. Keistimewaan

Bangunan makam Sunan Gunung Jati memiliki gaya arsitektur yang unik, yaitu kombinasi gaya arsitektur Jawa, Arab, dan Cina. Arsitektur Jawa terdapat pada atap bangunan yang berbentuk limasan. Arsitektur Cina tampak pada desain interior dinding makam yang penuh dengan hiasan keramik dan porselin. Selain menempel pada dinding makam, benda-benda antik tersebut juga terpajang di sepanjang jalan makam. Semua benda itu sudah berusia ratusan tahun, namun kondisinya masih terawat. Benda-benda tersebut dibawa oleh istri Sunan Gunung Jati, Nyi Mas Ratu Rara Sumandeng dari Cina sekitar abad ke-13 M. Sedangkan arsitektur Timur Tengah terletak pada hiasan kaligrafi yang terukir indah pada dinding dan bangunan makam itu.

Keunikan lainnya tampak pada adanya sembilan pintu makam yang tersusun bertingkat. Masing-masing pintu tersebut mempunyai nama yang berbeda-beda, secara berurutan dapat disebut sebagai berikut: pintu gapura, pintu krapyak, pintu pasujudan, pintu ratnakomala, pintu jinem, pintu rararoga, pintu kaca, pintu bacem, dan pintu kesembilan bernama pintu teratai. Semua pengunjung hanya boleh memasuki sampai pintu ke lima saja. Sebab pintu ke enam sampai ke sembilan hanya diperuntukkan bagi keturunan Sunan Gunung Jati sendiri.
Kompleks makam ini juga dilengkapi dengan dua buah ruangan yang disebut dengan Balaimangu Majapahit dan Balaimangu Padjadjaran. Balaimangu Majapahit merupakan bangunan yang dibuat oleh Kerajaan Majapahit untuk dihadiahkan kepada Sunan Gunung Jati sewaktu ia menikah dengan Nyi Mas Tepasari, putri dari salah seorang pembesar Majapahit yang bernama Ki Ageng Tepasan. Sedangkan Balaimangu Padjadjaran merupakan bangunan yang dibuat oleh Prabu Siliwangi untuk dihadiahkan kepada Syarif Hidayatullah sewaktu ia dinobatkan sebagai Sultan Kesultanan Pakungwati (kesultanan yang merupakan cikal bakal berdirinya Kesultanan Cirebon).
Selain terkenal dengan arsitektur bangunannya yang unik, obyek wisata ziarah makam Sunan Gunung Jati ini juga terkenal dengan berbagai macam ritualnya, yaitu ritual Grebeg Syawal, Grebeg Rayagung, dan pencucian jimat. Grebeg Syawal ialah tradisi tahunan yang diselenggarakan setiap hari ke 7 di bulan Syawal, untuk mengenang dan melestarikan tradisi Sultan Cirebon dan keluarganya yang berkunjung ke makam Sunan Gunung Jati setiap bulan itu. Sedangkan Grebeg Rayagung ialah kunjungan masyakat setempat ke makam yang diadakan setiap hari raya Iduladha. Selain itu, terdapat juga ritual tahunan pada hari ke-20 di bulan Ramadhan, tradisi itu disebut “pencucian jimat” dan benda-benda pusaka (gamelan dan seperangkat alat pandai besi) yang merupakan benda peninggalan Sunan Gunung Jati. Tradisi ini dilaksakan setelah shalat shubuh, bertujuan untuk memperingati Nuzulul Qur‘an yang jatuh pada tanggal 17 Ramadhan

Para penjaga makam sedang beristirahat di serambi
Makam Sunan Gunung Jati

C. Lokasi

Makam Sunan Gunung Jati terletak di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Propinsi Jawa Barat, Indonesia.


D. Akses

Makam Sunan Gunung Jati berjarak kurang lebih 6 km ke arah utara dari Kota Cirebon. Untuk menuju lokasi makam ini pengunjung dapat menggunakan kendaran pribadi (mobil) atau naik angkutan umum (bus) dari Terminal Cirebon. Dari terminal ini, pengunjung naik bus jurusan Cirebon—Indramayu dan turun di lokasi. Perjalanan dari Cirebon menuju lokasi makam ini biasanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit.


E. Harga Tiket

Memasuki obyek wisata ziarah makam Sunan Gunung Jati ini tidak dipungut biaya. Namun, para pengunjung dapat menyumbang dana seikhlasnya pada kotak sumbangan yang terletak di setiap pintu masuk kompleks makam itu.


F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di area makam Sunan Gunung Jati terdapat fasilitas seperti penginapan, warung makan, masjid, pendopo, Paseban Besar (pendopo tempat penerimaan tamu), Paseban Soko (tempat untuk bermusyawarah), parkir luas, dan alun-alun. Di lokasi ini juga terdapat pedagang kaki lima, kios cendramata, kios buah-buahan, dan lain-lain.

Tuesday, June 14, 2016

Keunikan masjid sang cipta rasa

Sepuluh Fakta Menarik Masjid Agung Sang Cipta Rasa

keunikan masjid sang cipta rasa
Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon
Masjid Agung Sang Cipta Rasa adalah masjid agung di kota Cirebon. Masjid tua bersejarah yang dibangun oleh para wali di masa Sunan Gunung Jati memerintah sebagai sultan pertama di Kesultanan Cirebon. Lokasi masjid ini persis di depan komplek Keraton Kasepuhan Cirebon, bersebelahan dengan Alun Alun Keraton Kasepuhan. Baik Masjid maupun Alun Alun-nya masih merupakan wilayah territorial Keraton Kasepuhan. Ada begitu banyak fakta menarik tentang masjid tua satu ini, berikut saya petikkan 10 diantaranya.


1. Masjid Pakungwati

Pada awalnya masjid Sang Cipta Rasa Cirebon disebut Masjid Pakungwati karena berada di dalam komplek Keraton Pakungwati (kini Keraton Kasepuhan). Pakungwati diambil dari nama Nyi Mas Pakungwati puteri tunggal Pangeran Cakrabuana (Raden Walang Sungsang) bin Raden Pamanah Rasa (Prabu Siliwangi / Sri Baduga Maharaja / Jaya Dewata). Nyi Mas Pakungwati adalah pewaris tunggal tahta Keraton Caruban Larang, oleh ayahandanya dinikahkan dengan sepupunya sendiri yang tak lain adalah Sunan Gunung Jati yang kemudian naik tahta sebagai Sultan Pertama Kesultanan Cirebon. Beberapa Sumber sejarah juga menyebut Nyi Mas Pakungwati sebagai penggagas pembangunan masjid ini yang kemudian diwujudkan oleh suaminya.

keunikan masjid sang cipta rasa
bangunan masjid Sang Cipta Rasa ini dikenali dari tembok pagar dan gerbang merahnya yang khas itu.
2. Dibangun oleh Para Wali. Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan salah satu masjid di pulau Jawa yang dibangun oleh para wali. Di dalam masjid ini di lokasi mihrabnya terdapat tiga buah batu tegel lantai khusus yang dulunya dipasang oleh masing masing Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Tiga buah tegel tersebut masing masing menyimbolkan Iman, Islam dan Ikhsan, simbolisasi yang sama dengan tiga susun atap-nya.

3. Dirancang Arsitek Majapahit. Adalah Raden Sepat yang di utus Raden Fatah Sultan Demak untuk turut membantu pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Raden Sepat adalah seorang mantan Panglima Pasukan Majapahit yang memimpin pasukannya menyerbu Demak pada saat Demak baru berdiri sebagai Kerajaan Islam pertama di Tanah Jawa. Penyerbuan yang berahir dengan kekalahan. Raden Sepat tak pernah kembali ke Majapahit bersama sisa pasukannya beliau mengikrarkan diri masuk Islam dan bergabung dengan kesultanan Demak.

keunikan masjid sang cipta rasa
Ada aroma Majapahit di mihrab masjid sang Cipta Rasa.
4. Masjid Sembilan pintu. Bangunan utama (asli) Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki Sembilan Pintu menyimbolkan Sembilan Wali (Wali Songo) yang turut berkontribusi aktif dalam proses pembangunannya. Pintu utama nya berada di sisi timur sejajar dengan mihrab, namun pintu utama ini nyaris tak pernah dibuka kecuali pada saat sholat Jum’at, sholat hari raya dan peringatan hari hari besar Islam. Delapan pintu lainnya ditempatkan di sisi kanan dan kiri.  Delapan pintu tersebut berukuran sangat kecil dibandingkan ukuran normal sebuah pintu, memaksa orang dewasa untuk menunduk saat akan masuk ke dalam masjid, meyimbolkan penghormatan dan merendahkan diri dan hati manakala memasuki masjid.

5. Dua belas sokoguru. Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki sokoguru tidak hanya empat tapi dua belas. Semua tiang tersebut terbuat dari kayu jati dengan diameter sekitar 60cm dan tinggi mencapai 14 meter. Mengingat usianya yang sudah sangat tua, seluruh sokoguru di dalam masjid ini sudah ditopang dengan rangkaian besi baja untuk mengurangi beban dari masing masing pilar tersebut, hanya saja kehadiran besi besi baja tersebut sedikit mengurangi estetika.

keunikan masjid sang cipta rasa
Soko guru Masjid Sang Cipta Rasa dengan empat kolom besi baja penopang di masing masing sokoguru.
6. Zamzam nya Cirebon. Di beranda samping kanan (utara) masjid, terdapat sumur zam-zam atau Banyu Cis Sang Cipta Rasa yang ramai dikunjungi orang, terutama pada bulan Ramadhan. Selain diyakini berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit, sumur yang terdiri dari dua kolam ini juga dapat digunakan untuk menguji kejujuran seseorang.

7. Dua Maksurah dan dua Mimbar.Layaknya sebuah masjid kerajaan, di masjid Agung Sang Cipta Rasa ini juga disediakan tempat sholat khusus bagi keluarga kerajaan atau Maksurah berupa area yang dipagar dengan pagar kayu berukir. Ada dua Maksurah di dalam masjid ini. satu maksurah di shaf paling depan sebelah kanan mihrab dan mimbar diperuntukkan bagi Sultan dan Keluarga keraton Kasepuhan. Serta satu Maksurah di shaf paling belakang disamping kiri pintu utama diperuntukkan bagi Sultan dan keluarga keraton Kanoman.

keunikan masjid sang cipta rasa
dua Maksurah di masjid Agung Sang Cipta Rasa
Selain dua maksurah, ada dua mimbar di dalam masjid ini yang bentuk dan ukurannya sama persis. Mimbar yang kini dipakai merupakan mimbar pengganti, disebelah kanan mimbar ini terdapat maksurah dan disebelah kanan maksurah mimbar lamanya ditempatkan.

8. Dibangun sebagai pasangan Masjid Agung Demak. Konon, Masjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun sebagai pasangan dari Masjid agung Demak. Pada saat pembangunan Masjid Agung Demak, Sunan Gunung Jati meminta izin untuk membangun pasangannya di Cirebon. Bila Masjid Agung Demak dibangun dalam watak arsitektur Maskulin, maka masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dibangun dalam watak Arsitektur Feminim.

keunikan masjid sang cipta rasa
Azan Pitu di Masjid Agung Sang Cipta Rasa
9. Tujuh Muazin Azan Bersamaan. Hanya ada di masjid ini tujuh orang muazin mengumandangkan azan secara bersamaan dan dikenal sebagai azan pitu. Konon, pada zaman dahulunya menjelang sholat subuh masjid ini diganggu oleh Aji Menjangan Wulungyang datang menebarkan petaka, beberapa muazin yang mencoba mengumandangkan azan tewas dihajar oleh-nya. Untuk mengusir Aji Menjangan WulungSunan memerintahkan tujuh orang muazin mengumandangkan azan secara bersamaan. Hingga kini azan pitu tetap dilaksanakan di masjid ini sebagai azan menjelang sholat Jum’at oleh tujuh muazin sekaligus dalam pakaian serba putih.

10. Tak tersentuh bom. Berdasarkan kisah tutur dari orang orang tua, dimasa penjajahan berulang kali pasukan Belanda dengan sengaja menarget masjid ini dengan bom, namun tak pernah berhasil, bom bom tersebut justru menghantam obyek yang lain. Di bulan Februari 2010 lalu, Masjid ini kembali menjadi target usaha pengeboman oleh pihak yang tak bertanggung jawab. Ust. Rahmad salah satu pengurus masjid menemukan bungkusan bom rakitan tersebut di dalam masjid sehari setelah puncak perayaan maulid Nabi, dan syukur Alhamdulilah bom rakitan tersebut tidak meledak meski ada indikasi bahwa pemicunya sudah dinyalakan.*